Header Ad Banner

 
Senin, 13 Desember 2010

sejarah agama hindu budha

PROSES PERKEMBANGAN BUDAYA DAN AGAMA HINDU BUDHA
Di wilayah india sekitar 2000 tahun yang SM, mulai berkembang budaya dan agama hindu-budha di sekitar sungai indus, dari india inilah  kemudian budaya dan agama hindu budha menyebar ke berbagai tempat.
1.    AGAMA HINDU

Dalam  upaya memantapkan pandangan kita  terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan Prof. Dr. Mukti Ali, sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia, tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. Bilama Hindu tidak mengenal missi, bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu?
Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa  (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang.
Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia.  Dalam kontek pembicaraan kita saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi  dengan  penduduk  di  lembah  sungai  Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang  datang kemudian menyebutnya dengan India. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka, Pakistan, Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa.  
Kata Sanàtana Dharma   berarti  agama yang bersifat abadi   dan  akan  selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama   asli  dari  agama ini masa, karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal, merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda, yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan, 1984: 13).

Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (Aparokûa-Anubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad, pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun yang lalu, membentuk kemuliaan Hinduisme, oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda, 1988: 4)
Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1.9.1 (Dayananda, 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka (Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II.11 (Loc.Cit). Bagi umat Hindu   kebenaran Veda adalah mutlak, karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati, pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Puruûeyaý artinya dari manusia. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya, merealisasikan kebenaran  Veda, bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein, Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. Demikian  pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada, karena bersifat Anadi-Ananta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka, para maharsi mampu menerima mantra Veda. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra), Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra, 1988: 5).
Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agama-agama yang lain, melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda (Ågveda, Yajurveda, Sàmaveda atau Atharvaveda). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa, Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya, lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Seorang maharsi Agung, yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha, Aúsrama, Gurukula atau Saýpradaya.
Didalam memahami ajaran agama Hindu, disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi, dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu), Úìla  (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno), Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi, yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber  ajaran Hindu yang kedudukannya lebih tinggi.

AGAMA HINDU DI INDIA
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap  Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.
Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara.

MASUKNYA AGAMA HINDU DI INDONESIA
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.
Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):
Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
Prasasti Porong (Jawa Tengah)
Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.

AGAMA HINDU DI INDONESIA
Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu"
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.
Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada  ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan  menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

2.    AGAMA BUDHA

Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisi Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.
Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Ia juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya").
Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan pada kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada ). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.
Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya "Buddha" saja, sebuah kata Sansekerta yang berarti "ia yang sadar" (dari kata budh+ta).
Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah India (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda.
Keengganan Buddha untuk mengangkat seorang penerus atau meresmikan ajarannya mengakibatkan munculnya banyak aliran dalam waktu 400 tahun selanjutnya: pertama-tama aliran-aliran mazhab Buddha Nikaya, yang sekarang hanya masih tersisa Theravada, dan kemudian terbentuknya mazhab Mahayana, sebuah gerakan pan-Buddha yang didasarkan pada penerimaan kitab-kitab baru.
A. Masa Penegasan Ikrar
Dalam kelahiran sebelumnya Bodhisattva terlahir sebagai anak-anak laki-laki bernama Sumedha dari keluarga brahmin yang kaya raya. Orang tuanya meninggal dunia sebelum dia dewasa dan meninggalkan seluruh harta kekayaan untuknya. Harta tersebut diurus oleh bendaharawan. Saat usia beliau sudah menginjak dewasa semua kepengurusan dan kepemilikan atas harta tersebut diserahkan kepadanya.
Namun saat melihat harta tersebut Sumedha merenung sebagai berikut : dalam kehidupan ini orang tua dan leluhur saya telah mengumpulkan harta yang banyak sekali. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah tersebut mereka tidak membawa setelah mereka meninggal. Semua harta tersebut ditinggalkan. Meskipun harta tersebut menjadi milik saya kalau nanti saya mati harta tersebut pun akan saya tinggalkan
Oleh karena itu saat menerima harta tersebut dia pun mengumumkan kepada penduduk yang hidup di daerah tersebut untuk mengambil harta yang dia miliki. Penduduk mengambil harta tersebut dengan senang dan gembira. Kemudian Sumedha memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pertapa.
Pada suatu hari, pertapa Sumedha melalui suatu daerah. Masyarakat di sana sedang menyiapkan kedatangan Buddha Dipankara. Mereka bahu-membahu mempersiapkan kedatangan Buddha. Saat mendengar nama Buddha, hati pertapa ini sangat gembira. Dia pun memutuskan untuk membantu masyarakat menyambut kedatangan Buddha. Masyarakat sangat senang dan menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pertapa tersebut. Meskipun memiliki kemampuan gaib namun pertapa ini tidak menggunakannya.
Sehingga saat Buddha muncul masih ada genangan air yang belum dibersihkan. Dengan seketika Pertapa Sumedha membentangkan tubuhnya digenangan tersebut. Pada saat Buddha hendak melewati dia berikral untuk menjadi Buddha. Meskipun dia memiliki kesempatan mencapai kesucian. Namun dia tidak mengejar pencapaian tersebut. Dia ingin membantu makhluk-makhluk terbebas dari penderitaan. Buddha dengan kekuatan batinnya melihat pertapa ini memiliki kesempatan untuk menjadi Buddha dia kehidupannya mendatang.

A.     MASA TUNGGU DI ALAM TUSITA
Setelah bodhisattva telah menyempurnakan kebajikan baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan. Dia terlahir di Surga Tusita yang merupakan alam terakhir sebelum terlahir sebagai manusia untuk mencapai pencerahan.
            Beliau berdiam di alam tersebut menunggu waktu yang tepat untuk terlahir sebagai manusia dan merealisasi kebenaran dan menacapai kesucian. Adapun 7 (tujuh) hal yang di selidiki oleh seorang Bodhisattva, yaitu :
1.    Alam kehidupan
2.    Usia alam manusia
3.    Apakah Dharma masih ada
4.    orang tua
5.    kedudukan sosial calon orang tua

B.     MASA KELAHIRAN
Pada bulan Purnama tahun 623 SM, di taman Lumbini lahirlah seorang Pangeran. Ayahnya adalah seorang raja bernama Suddhodana dan ibunya Maha Maya. Suatu KEAJAIBAN yang luar biasa boddhisatva berjalan dan berhenti pada langkah ketujuh, mengangkat tangan kanan di atas kepalanya dan dengan lantang dia berseru :
Akulah yang terluhur di dunia ini !
Akulah yang teragung di dunia ini !
Akulah yang termulia di dunia ini !
Inilah kelahiranku  yang terakhir
Tak ada lagi kelahiran kembali bagi Ku
Anak ini diberi nama Sidharta yang berarti ’Tercapailah Cita-cita.’ Nama tersebut diberikan karena pasangan ini telah lama mengharapkan kehadiran putra mahkota.
            Kelahiran pangeran ini mengundang perhatian dari pertapa Asitha. Pada saat dia berada di gunung dia melihat adanya bintang timur yang menandakan kelahiran manusia luar biasa. Ketika dia melihat pangeran. Ternyata apa yang dilihatnya itu tidaklah salah. Pangeran memiliki 32 (tiga puluh dua) tanda mayor yang menunjukkan manusia luar biasa. Orang yang memiliki tanda tersebut dalam hidupnya hanya ada 2 (dua) kemungkinan hidup yang akan dijalani, yaitu : menjadi seorang raja yang menguasai alam semesta dengan 7 (tujuh) mestika berupa mestika permaisuri, penasehat, bendahara, cakra, gajah, kuda terbang dan .......... Sedangkan apabila dia menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa dia akan menjadi seorang Buddha, guru para dewa dan manusia.
            Selain 32 (tiga puluh dua) tanda tersebut. Pangeran pun memiliki 80 (delapan puluh) tanda tambahan yang mempertegas manusia luar biasa. Tanda-tanda tersebut beliau miliki merupakan hasil dari penyempurnaan perbuatan dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. Setiap tanda menunjukkan kesempurnaan perbuatan yang telah dilakukan.
            Pada usia 6 tahun pangeran mendapat pendidikan, sastra maupun keterampilan sebagaimana yang dialami para pangeran lainnya. Seperti memanah, menunggang kuda dan keahlian berpedang. Ada hal yang menarik yaitu pada perayaan bajak sawah. Saat para pengawal sibuk dengan acara perayaan. Pangeran duduk bermeditasi. Namun suatu keajaiban sinar matahari yang mengarah ke pangeran Siddharta tidak berpindah. Meskipun hari sudah siang hari.
            Pada usia 16 tahun pangeran menikah dengan putri Yasodhara. Selama kurang lebih 13 tahun sejak pernikahannya yang bahagia. Beliau hidup dalam kemewahan, tanpa mengetahui perubahan kehidupan yang terjadi di luar istana. Siang dan malam payung putih membentang di atasnnya sehingga Beliau tidak tersentuh oleh panas, dingin, debu, daun atau embun.
            Suatu hari beliau meminta ijin kepada ayahnya untuk melihat keadaan sekeliling istana. Ayahnya menyetujui. Namun sebelum pangeran melakukan perjalanannya. Ayahnya memerintahkan kepada penduduk bagi mereka yang sakit, tua maupun mati tidak diperkenankan dilihat oleh Pangeran.
            Sepanjang perjalanan pangeran disambut gembira oleh rakyat. Namun pada suatu persimpang, pangeran melihat sesuatu yang membuka matanya, dia melihat orang tua, orang sakit maupun orang mati. Melihat hal tersebut, membuat hati pangeran pun sedih. Ternyata di dunia ini ada orang yang sakit, tua dan mati. Begitu pun dengan dirinya yang tidak luput dari hal tersebut. Apa arti kekayaan, maupun kebahagiaan kalau harus berpisah darinya.
            Pada saat kelahiran putranya yang diberi nama rahula. Artinya ’ Belenggu’. Karena dengan kelahiran tersebut membuat dirinya sukar untuk berpisah. Namun karena demi kebahagiaan semua makhluk, beliau tetap putuskan untuk mencari obat, bagi yang tua, sakit dan mati. Saat melihat seorang pertapa yang memiliki wajah yang berseri-seri. Dia pun memutuskan untuk menjadi seorang pertapa. Sehingga pada malam hari. Ketika para penghuni terlelap, beliau memutuskan untuk meninggalkan istana. Pada malam tersebut tepat bulan purnama.
            
C.     MASA PERJUANGAN UNTUK MENCAPAI PENCERAHAN
Pangeran meninggalkan istana bersama dengan kusirnya bernama Channa dan kuda kesayangnya bernama Kanthaka. Pada saat berada di sungai Rohini. Pangeran memotong rambutnya dan memerintahkan Channa untuk kembali ke istana. Sementara dirinya akan menjadi pertapa.
Dalam kehidupan sebagai pertapa. Beliau berguru kepada Alara Kalama yang menguasai meditasi ketenangan dan Uddhaka Ramaputra yang menguasai meditasi kekosongan tertinggi. Pertapa gotama mampu menguasai dalam waktu singkat. Karena melihat apa yang diperoleh tersebut bukan tujuan akhir. Maka Beliau pun meninggalkan gurunya dan bertapa.
Pada saat sampai di hutan uruvela dia bertapa bersama 5 (lima) orang pertapa, yaitu Asaji, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Kondanna. Selama 6 (enam) tahun beliau menjalankan pertapaan ekstrim. Sehingga membuat dirinya kurus kering. Apabila beliau menyentuh kulit perutnya ; tulang belakangnya akan tersentuh juga. Demikianlah kulit perutnya melekat pada tulang punggungnya karena kurang makan..
Pertapa Gotama menyadari apa yang dilakukannya adalah sia-sia. Maka dia memutuskan untuk menempuh jalan tengah. Saat 5 (lima) pertapa melihat apa yang dilakukan pertapa gotama, mereka menganggap pertapa Gotama telah gagal dan mereka pun meninggalkannya bertapa sendirian.
Saat berada di Sungai Rohini, pertapa Gotama pun mengucapkan tekadnya. Apabila telah waktunya, maka mangkuk yang ada di tangan ini, ia tidak akan megalir searah arus sungai tetapi akan berlawanan. Apa yang terjadi, ternyata mangkuk itu bergerak melawan aliran sungai.

D.    MENAKHLUKKAN PASUKAN MARA
Pada hari itu juga pertapa Gotama melanjutkan pertapaannya. Beliau berikral, ”Meskipun tulang-berulangku berserakkan , darah dan dagingku mengering. Aku tidak akan bangkit dari pertapaan sebelum dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh manusia, semangat manusia, usaha manusia.”
Mengetahui keadaan ini, Mara segera mendekatinya dengan pura-pura berniat baik dan berwelas asih. Katanya, ”O, Pangeran Mulia, sekarang Engkau sangat kurus, Engkau telah kehilangan keagungan tubuhmu, sungguh buruk tubuhmu sekarang. Kematianmu hampir tiba, hanya satu di antara seribu kemungkinanmu untuk tetap hidup. O, Pangeran Mulia, hidup adalah jalan yang lebih baik. Jika Engkau panjang umur, engkau bisa melakukan perbuatan baik. Engkau bisa menjalani kehidupan suci dan melakukan upacara pengorbanan, dan karenanya dapat memperoleh banyak jasa. Apalah gunanya latihan tapa yang berat ini ! Sesungguhnya tidak layak melalui jalan seperti ini !”
Sebagai jawaban terhadap godaan Mara, dengan lantang Bodhisattva berkata demikian : ”O si Jahat, engkau senantiasa mengikat semua makhluk dalam lingkaran samsara, serta yang selalu menghalangi semua makhluk untuk mencapai pembebasan. Engkau datang ke sini hanya untuk dirimu sendiri.”
”Tak kubutuhkan sedikit pun jasa yang menjurus pada lingkaran penderitaan. Mara, hanya mereka yang mendambakan jasa seperti inilah yang bisa engkau pancing seperti ini.”
”Teguh keyakinanku bahwa aku akan segera mencapai Nibbana. Tinggi semangatku yang mampu membakar habis kemelekatan. Tiada banding kebijaksanaanku yang bisa meluluh-lantahkan gunung karang kegelapan batin berkeping-keping. Tinggi perhatian murniku yang mampu membimbingku menjadi Buddha, bebas dari ketidak acuan. Tak tergoyangkan konsentrasiku, seperti gunung Meru yang bergeming saat badai tiba.”
”O, Mara, angin dalam tubuhku yang timbul karena usahaku yang keras mengembangkan appanaka jhana bisa mengeringkan aliran sungai Ganga, Yamuna, Acirawati, Sarabhu dan Mahi. Karena itu dengan usahaku seperti ini, mengapa angin tidak mampu mengeringkan darah yang jumlahnya sedikit dalam tubuhku ini, dengan batinku yang telah terarah ke Nibbana ?”
”Jika darahku mengering, air empedu, lendir, kencing serta zat makanan juga akan emgnering ; demikian pula dagingku akan mengering. Namun, walau darah, air empedu, lendir, kencingserta dagingku dalam tubuhku semuanya mengering seperti ini, batinku menjadi semakin jernih ; demikian pula perhatian murni, kebijaksanaan serta konsentrasiku semakin berkembang dan mantap.”
”Walau aku mengalami sakit yang teramat sangat, kendati pun seluruh tubuh ku telah mengering hingga nyaris menyemburkan api dan meskipun hasilnya aku akan menjadi teramat letih, pikiran ku tidak akan teralih oleh nafsu indarawi. O, mara tampak olehmu adalah kemurnian dan kejujuran dari manusia yang tiada bandingnya, yang telah memenuhi segenap kesempurnaan.”
”Pasukanmu yang pertama adalah nafsu indrawi. Kedua adalah kebencian terhadap hidup suci. Ketiga adalah lapar dan dahaga. Keempat adalah nafsu keinginan. Kelima adalah kemalasan dan kelesuan. Keenam adalah rasa takut. Ketujuh adalah keragu-raguan. Kedelapan adalah dendam dan keras kepala. Kesembilan adalah perolehan, ketenaran dan kehormatan. Kesepuluh adalah memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.
”Inilah pasukanmu yang dengan paksa menghalangi pembebasan manusia, dewa dan brahma dari lingkaran penderitaan. Tak seorang pun kecuali orang yang berani, yang memiliki keyakinan, tekad, semangat dan kebijaksanaan yang tinggi yang mampu untuk mengalahkannya. Kemenangan ini akan mendatangkan kebahagiaan dari Jalan Kesucian, buah kesucian serta Nibbana.”
”Kupakai rumput Munja ini sebagai perlambang bahwa aku tak akan surut. Akan memaluhka, merendahkan dan hina jika aku terpaksa mundur dari pertarungan ini dengan tetap hidup di dunia ini dan engkau kalahkan. Jauh lebih baik bagiku untuk mati di medan laga daripada menyerah pada kekuatanmu.”
”Di dunia ini ada pertapa dan brahmana yang pergi menuju medan laga memarangi kilesa, namun mereka tidak memiliki kekuatan, mereka ditakhlukkan kesepuluh pasukan itu. Mereka bagaikan orang yang tanpa cahaya yang tidak sengaja masuk dalam kegelapan. Mereka tidak mengetahui maupun menapaki jalan dari para suciwan.

E.     MASA KEBUDDHAAN
Dengan jalan tengah, pertapa Gotama melaksanakan meditasi, beliau mencapai tingkatan meditasi satu demi satu dan akhirnya dapat mencapai pencerahaan. Beliau pun mengucapkan kata-kata sebagai berikut :
Dengan sia-sia Aku mencari pembuat rumah ini, berlari-lari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir
Menyakitkan Tumimbal lahir yang tidak ada habis-habisnya
O, Pembuat rumah sekarang telah Aku ketahui
Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi
Semua atapmu telah kurobohkan
Semua sendi-sendimu telah ku bongkar
Batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana
Dan berakhir sudah semua nafsu-nafsu keinginan
Setelah mencapai pencerahan selama 7 (tujuh) minggu, beliau melaksanan meditasi :
•         Minggu I, Buddha duduk di bawah pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari gangguan-gangguan batiniah
•         Minggu II, Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi sebagai ucapan terima kasih
•         Minggu III, Buddha berjalan mundar-mandir di jembatan emas yang diciptakannya di udara untuk menghilangkan keragu-raguan para dewa
•         Minggu IV, Buddha berdiam di kamar permata dan merealisasi ajaran Abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa dan metafisika
•         Minggu V, Buddha berdiam di bawah pohon Ajapala Nigrodha (pohon beringin)
•         Minggu VI, Buddha bermeditasi di bawah pohon Mucalinda
•         Minggu VII, Buddha bermeditasi di bawah pohon Rajayatana

F.      MASA PEMBABARAN DHARMA
Pada saat pertapa Gotama mencapai pencerahan Beliau disebut sebagai Buddha. Muncul dalam pikiran Beliau "Apakah sekarang saatnya Saya mengajarkan Dhamma?" Kemudian pikiran ini muncul: "Saya telah menemukan Dhamma kebenaran ini, yang sangat dalam, yang sulit sekali untuk dipahami, sulit sekali dimengerti, damai, agung, bukan didasarkan pada logika, halus sekali dan hanya dapat dipahami oleh orang bijaksana.”
Sedangkan pada umumnya, orang-orang menyenangi hal-hal yang membuai mereka, menuju hal-hal itu dan puas dengan hal-hal itu, adalah sulit bagi mereka untuk memahami, mengerti bahwa 'Ini disebabkan oleh Itu', dan segala sesuatu terjadi berdasarkan kondisi yang saling bergantungan. Hal-hal ini pun sulit untuk dipahami, yakni untuk menenangkan semua kegiatan kehidupan, menghancurkan semua kehausan, menghentikan arus kehidupan yang berulang-ulang kali, tanpa nafsu indera, ketenangan batin dan nibbana.
Apabila sekarang ini Saya mengajarkan dhamma, dan orang-orang tidak dapat memahami apa yang Saya ajarkan, maka keadaan itu akan melelahkan dan sia-sia belaka."
Ketika itu dewa Maha Brahma Sahampati menyadari apa yang dipikirkan oleh Buddha Gotama, kemudian muncul pikiran: "Dunia akan lenyap dan binasa, karena Buddha Gotama mengurungkan niatnya untuk mengajarkan Dhamma."
Selanjutnya bagaikan seorang yang gagah perkasa yang merentangkan atau merapatkan kedua tangannya yang telah direntangkan, Maha Brahma lenyap dari alam Brahma, dan muncul di depan Buddha Gotama.
Setelah Maha Brahma membuka jubah pada bagian bahu kanannya, dan dengan kaki kanan yang ditekukkan serta tangan beranjali ke arah Buddha Gotama, Dia berkata: "Bhante, Semoga Bhagava mengajarkan Dhamma! Karena ada makhluk-makhluk yang mata mereka hanya dikotori debu sedikit saja, mereka akan dapat mengerti Dhamma, tetapi bila mereka tidak mendengar Dhamma, maka mereka akan meninggal tanpa memperoleh manfaat yang besar."
Maha brahma tersebut memohon sebanyak 3 (tiga) kali. Pada permohonan ketiga tersebut. Buddha yang penuh cinta kasih dan kasih sayang menyadari permohonan Maha Brahma, dan karena kasih sayangnya kepada semua makhluk, maka Beliau melihat dunia dengan Mata-Kebuddhaan. Dengan Mata-Kebuddhaan Beliau dapat melihat makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori sedikit debu saja, dan makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori banyak debu; ada makhluk yang inderanya peka, ada yang tidak peka; ada makhluk yang bersifat baik dan ada yang buruk; ada yang pintar dan ada yang bodoh; di antara mereka ada yang menyadari adanya bahaya-bahaya dalam kehidupan di alam-alam dan bahaya dari perbuatan salah.
Buddha memutuskan untuk membabarkan Dharma yang indah pada permulaan, Indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya, kepada gurunya pertama, yaitu Alara Kalama. Namun gurunya tersebut telah meninggal dunia. Begitu pun gurunya bernama, Uddhaka Ramaputra, gurunya ini pun telah meninggal dunia. Kemudian Buddha putuskan kepada 5 (lima) teman bertapanya. Pada saat bertemu Buddha bersabda kepadda mereka :
“Dengarkanlah, O, Pertapa. Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari kematian. Akan kuberitahukan kepadamu. Akan kuajarkan kepadamu. Kalau Engkau ingin mendengar, belajar dan melatih diri seperti apa yang kuajarkan, dalam waktu singkat Engkau pun dapat mengerti, bukan nanti di kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam kehidupan ini. Apa yang kukatakan adalah benar. Engkau dapat menyelami sendiri keadaan itu yang berada di atas hidup dan mati.
Buddha terus membabarkan Dharma dan Banyak makhluk merasakan kebahagiaan. Seperti orang haus mendapatkan air yang dapat menghilangkan dahaganya. Pada saat murid Buddha telah berjumlah 60 (enam puluh) orang, Buddha bersabda kepada murid-muridnya, sebagai berikut :
“Oh, Bhikkhu, babarkanlah Dharma demi kesejahteraan dan keselamatan banyak orang. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah dharma yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya.
Umumkan tentang kehidupan suci. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya tertutup oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dharma mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar. Mereka adalah orang yang dapat mengerti Dharma dengan sempurna.”

G.    MASA MEMASUKI MAHA PARINIBBANA
Buddha Gotama membabarkan Dharma selama 45 tahun. Sebelum memasuki Maha parinibbana Buddha mengumpulkan para muridnya. Buddha memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk bertanya.
            O, Bhikkhu, mungkin ada di antara kalian yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Buddha, Dharma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan pelaksanaannya. Engkau boleh mengajukan pertanyaan !”  Jangan di kemudian hari Engkau mempunyai pikiran,” Guru, meskipun berada dan berhadapan muka Kami lalai untuk bertanya kepada Beliau.

Free Download Music and Lyrics, we can also give free download template blogger seo friendly for U

About Me

Hello My Name Is Deny Kurniawan, I am a student who loves to write, telling stories and jokes. With this blog I hope all of which I think can be read by everyone and will certainly benefit you. .

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Blog Saya

Laman

My Blog List

 

Bottom Left

Bottom Mid

Bottom Right